31 C
Jakarta
Kamis, 28 Oktober 2021
Beranda Kolom Berkaca dari Yuni Shara Hingga Pasangan di Thailand, Warganet Indonesia Tidak Sopan...

Berkaca dari Yuni Shara Hingga Pasangan di Thailand, Warganet Indonesia Tidak Sopan Se-Asia Tenggara itu Benar

Sumber Foto: Instagram @yunishara36

IDN-CHANNEL – Postingan lawas di media sosial Yuni Shara kembali mencuat. Foto dirinya mengenakan ulos Batak lengkap dengan kain penutup kepala mengundang cacian di Instagram. Kakak kandung Krisdayanti ini sudah lama adem ayem dengan hidupnya, namun apa daya, dirinya diserbu dengan body shaming oleh netizen Indonesia.

Salah satu netizen dengan isengnya membandingkan wajah Yuni yang kinclong dengan kulit tubuh dan tangannya yang mulai keriput. “Keliatan juga ya tuanya di bagian badan dan tangan walau pun mukanya tetap alus,” tulis akun @ainunnun79 di kolom komentar.

Komentar tersebut dibalas dengan bijak, Yuni mengatakan tidak masalah dengan keriput di beberapa bagian tubuh. Baginya, tidak menutupi keriputnya merupakan pilihannya sendiri.

“Keliatan dong bu, kan memang sudah memasuki 46 tahun. Dan saya tampil apa adanya kok bu, gak dimuda-mudain dan nggak dipakein sarung tangan biar gak keliatan kalo keriput. Saya santai banget dengan keriput saya. Malah ibu yang kurang santai liatnya, heheheh,” balas Yuni Shara.

Netizen lain pun tidak kalah iseng, bagian dada Yuni dinilai seperti dada nenek-nenek. “Mukanya cantik pas liat dadanya kayak dada nenek-nenek. Usia ga bisa dibohongin,” tulis akun @sisca.amora.

Tidak menuntut atas tuduhan pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan. Yuni malah membalas dengan santai. Dirinya mendoakan netizen tersebut, bahkan juga tidak menyangkal usianya yang sudah menua. “Terimakasih atas perhatiannya memang saya sudah punya cucu, tapi lumayanlah ga jelek-jelek amat. Semoga ibu juga bisa awet muda yah,”tulis Yuni.

Dengan jawaban santai dan tanpa emosi tersebut langsung menjadi buah bibir warga Twitter, bahkan hingga masuk trending. Berbeda dari Instagram, di Twitter banyak orang yang mengaku terpesona dengan sikap dewasa yang ditunjukan.

Meskipun ada yang mengatakan bahwa salah satu risiko jadi seorang artis adalah menerima kritik dari publik, baik terkait perbuatan, ucapan, karya maupun penampilannya. Namun bukti dari kekejaman jari warganet Indonesia tidak hanya menyerang didalam negeri saja.

Beberapa waktu lalu warganet Indonesia di media sosial Facebook beramai-ramai menyerang salah satu pasangan Thailand bernama Suriya Koedsang. Bermula dari Suriya yang mengunggah foto pernikahannya dengan pasangan sesama jenis, banyak warganet Indonesia yang ikut campur dengan memberikan komentar hujatan.

Tidak hanya mengatakan komentar yang tidak pantas, netizen Indonesia bahkan memberi ancaman untuk membunuh dan mengutuk pasangan tersebut. Merasa dirinya serta nyawa keluarganya sudah terancam, Suriya memutuskan untuk melaporkannya kepada polisi.

Suriya sendiri sebenarnya tidak paham dengan respon netizen Indonesia. Menurutnya, dirinya dan pernikahannya yang dijalani tidak mengganggu kehidupan negara Indonesia. Bahkan mereka menikah di wilayah negaranya sendiri secara resmi dan restu keluarga.

“Kami menikah di rumah saya sendiri, di negara saya. Kenapa mereka (Indonesia) mempermasalahkannya? Kenapa kalian bersikap kasar kepada kami? Agama tak pernah mengajarkan kebencian. Tapi mengajarkan untuk menjadi manusia yang lebih baik,” tulis Suriya.

Berkaca dari dua kasus diatas, sepertinya survei Indonesia dianggap sebagai negara yang memiliki netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara memang tepat. Dengan menempatkan Indonesia di urutan ke 29 dari 32 negara, Indonesia harusnya lebih dididik seputar tata krama menulis komentar.

Enda Nasution, selaku pengamat media sosial mengungkapkan, meskipun tidak bisa disimpulkan bahwa netizen Indonesia memiliki sifat yang lebih buruk dibanding netizen negara lain.

Pada dasarnya sifat seseorang saat berada di dunia maya cenderung jauh berbeda dengan sifatnya di dunia nyata.

Ada sejumlah alasan mengapa hal itu terjadi. Misalnya, netizen merasa dirinya berada di jarak tertentu yang hanya bisa dijangkau oleh media, sehingga dirinya merasa aman dan lebih terlindung.

Netizen juga tidak merasakan reaksi fisik dan emosi pihak yang diberi komentar secara langsung, sehingga kadang netizen tidak merasa bahwa dirinya menjadi salah satu pelaku penyerangan, penghujatan, dan sebagainya.

Alasan lainnya yaitu netizen dominan merasa mudah karena berpikir dirinya ada dalam suatu kelompok. Mereka tidak merasa individual tapi mengikuti alur mayoritas, sehingga netizen seolah berlomba-lomba menjadi siapa yang paling lucu, paling kejam, atau paling menusuk perasaan. Itu juga menjadi alasan kenapa intensitas “kekejaman” komentar juga makin meninggi seiring waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

RUU PDP Diharapkan Benar-benar Melindungi Masyarakat

Sumber Foto: Istimewa IDN-CHANNEL - Indonesia butuh lembaga kontrol yang punya otoritas bila Rancangan Undangan-Undang Perlindungan Diri Pribadi (RUU PDP) menjadi peraturan resmi. Hal tersebut dikatakan...

Mentan SYL Ingatkan Pentingnya Ketangguhan Sistem Pangan Kawasan ASEAN

Foto: Kementerian Pertanian IDN-CHANNEL - Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk pada pencapaian Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Tujuan 2 “Tanpa Kelaparan”, khususnya dalam memastikan...

Presiden Sampaikan Tiga Fokus KTT ASEAN Plus Three dalam Ketahanan Kesehatan

Foto: Sekretariat Presiden IDN-CHANNEL - Presiden Joko Widodo menyampaikan tiga hal yang dapat menjadi fokus ASEAN Plus Three (APT) dalam pembangunan ketahanan kesehatan. Tiga hal...

Mentan SYL Pimpin Sidang Menteri Pertanian ASEAN, Pastikan Ketahanan Pangan Regional

Foto: Kementerian Pertanian IDN-CHANNEL - Seiring dengan dinamika pembangunan regional dan imbas pandemi Covid-19 dalam 2 tahun terakhir, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak para...

Recent Comments