31 C
Jakarta
Kamis, 28 Oktober 2021
Beranda Kolom Dari Jessica Jane Kita Belajar Bahwa Jejak Digital itu Membahayakan di Masa...

Dari Jessica Jane Kita Belajar Bahwa Jejak Digital itu Membahayakan di Masa Depan

Sumber Foto: Istimewa

IDN-CHANNEL – Rabu (21/4) kemarin di Twitter, trending dari sebuah akun yang memperlihatkan tangkapan layar status-status lama Facebook Jessica Jane. Terlihat adik dari YouTuber Jess No Limit ini banyak menuliskan tulisan yang kasar, sombong, dan tengil.

“Adiknya Jess No Limit waktu kecilnya bangor juga, ya,” tulis akun tersebut.

Tak butuh waktu lama, unggahan akun tersebut pun viral, bahkan trending di Twitter. Warganet yang melihat pun menilai kalimat tersebut seharusnya tidak pantas ditulis Jessica yang saat itu masih berumur 9 tahun.

Jessica sendiri kemudian ikut menanggapi unggahan tersebut. “Please, jangan ditiru, waktu itu umur 9 tahun hati nuraninya belum bekerja.” Tulis Jessica. “Aduh lupa password facebooknya lagi, maaf guys wkwkkw, gak sadar sekasar itu, jangan di tiru ya.”

Banyak orang berpikir anak sekecil yang bermain sosial media tidak seharusnya dengan mudah mengeluarkan umpatan kasar dan kejam, bahkan untuk ukuran orang dewasa. Dengan tergali nya jejak digital di masa lalu ini lah, banyak orang yang awalnya memiliki citra yang baik, tiba-tiba di cap berperangai buruk akibat kelakuannya di masa lalu.

Era digital yang memudahkan dalam berkomunikasi juga membuat orang mudah untuk mencari informasi dengan detail di masa lalu dan masa kini. Disisi lain dari pengunaan internet telah menghasilkan jejak digital jauh lebih banyak dibandingkan dari waktu sebelumnya. Hal ini terjadi karena penggunaan smartphone jauh lebih berkembang sampai 2,32 miliar pengguna dari seluruh dunia.

Melansir laman Tech Terms, jejak digital atau digital footprint, adalah tapak data yang tertinggal setelah kamu beraktivitas di internet. Digital footprint juga sesuatu yang tak mudah dihilangkan dan dapat disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Terlebih pada media sosial, fenomena pemutusan hubungan kerja akibat kelakuan tidak baik di media sosial juga sudah sering terjadi.

Tidak seperti tapak kaki di pasir, jejak yang ditinggalkan di dunia maya merupakan informasi yang menggambarkan kepribadianmu. Pengguna bisa secara aktif mempublikasikan informasi sensitif terkait pekerjaan dan kehidupan mereka dengan membagikannya pada blog pribadi. Atau, pengguna mungkin secara pasif, seringkali tidak sengaja, menyumbangkan metadata mereka pada layanan yang digunakan.

Masalahnya, banyak orang yang masih belum mengerti bahwa risiko jejak ini sebenarnya berbahaya, terutama jika data tersebut merupakan hal yang sensitif. Dikutip dari Instagram @kemenkominfo, berikut beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan dari jejak digital.

1. Digital exposure

Dikutip dari Ciso Platform, risiko pertama yang akan dihadapi yaitu digital exposure. Istilah ini mengacu pada orang-orang tidak bertanggung jawab yang akan mengakses bebas data pribadimu. Risiko ini juga bisa terjadi melalui laman yang dikunjungi di internet. Pencurian data ini memiliki banyak kerugian, seperti risiko penggunaan identitas tanpa izin, dan tindak kriminal lainnya.

2. Phising

Kerugian yang mengintai akibat jejak digital berikutnya yaitu phising. Phising merupakan upaya pengelabuan dengan menggunakan data pribadi, data akun, atau data finansial. Serangan ini dapat membahayakan pengguna dengan membobol data penting, seperti rekening ATM, file pekerjaan, atau penjualan data pribadi.

Dikutip dari Phising Working Group, 32% pencurian data selalu melibatkan phising. Biasanya, tindakan kriminal ini bisa terjadi karena penyerang sudah mendapatkan informasi sensitif korban yang tertinggal di internet.

3. Hancurnya reputasi

Dikutip dari riset Career Builder pada tahun 2017, hampir 70% perusahaan di Amerika Serikat menggunakan media sosial untuk melirik profil pencari kerja. Salah satu poin rekruter tahap seleksi yaitu dengan memperhatikan kebiasaan, dan kepribadian kandidat.

Sehingga sangat berbahaya para pencari kerja dengan jejak digital yang buruk. Apalagi jika rekruter menemukan aktivitas yang dirasa kurang sesuai dengan kultur perusahaan, reputasi profesional kandidat pun bisa tercoreng.

Dikutip dari Rasmussen, cara terbaik yang bisa kalian lakukan untuk mengatur jejak digital yaitu dengan mengelolanya. Kalian bisa menghindari penyebaran data-data penting, seperti alamat rumah, rekening ATM, atau nomor handphone di internet.

Buatlah sandi yang kuat untuk setiap media sosial yang digunakan, dan jangan mengunggah sesuatu yang bersifat personal. Kalian juga bisa menggunakan layanan pelindung pada perangkat. Terakhir, cari lah nama kalian pada mesin pencari Google. Jika ditemukan, hapus semua yang sekiranya mengandung informasi sensitif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

RUU PDP Diharapkan Benar-benar Melindungi Masyarakat

Sumber Foto: Istimewa IDN-CHANNEL - Indonesia butuh lembaga kontrol yang punya otoritas bila Rancangan Undangan-Undang Perlindungan Diri Pribadi (RUU PDP) menjadi peraturan resmi. Hal tersebut dikatakan...

Mentan SYL Ingatkan Pentingnya Ketangguhan Sistem Pangan Kawasan ASEAN

Foto: Kementerian Pertanian IDN-CHANNEL - Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk pada pencapaian Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Tujuan 2 “Tanpa Kelaparan”, khususnya dalam memastikan...

Presiden Sampaikan Tiga Fokus KTT ASEAN Plus Three dalam Ketahanan Kesehatan

Foto: Sekretariat Presiden IDN-CHANNEL - Presiden Joko Widodo menyampaikan tiga hal yang dapat menjadi fokus ASEAN Plus Three (APT) dalam pembangunan ketahanan kesehatan. Tiga hal...

Mentan SYL Pimpin Sidang Menteri Pertanian ASEAN, Pastikan Ketahanan Pangan Regional

Foto: Kementerian Pertanian IDN-CHANNEL - Seiring dengan dinamika pembangunan regional dan imbas pandemi Covid-19 dalam 2 tahun terakhir, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak para...

Recent Comments