31 C
Jakarta
Kamis, 28 Oktober 2021
Beranda Kolom Indonesia Raya Bergema Di Yogyakarta di Tengah - tengah Turbulensi Politik Identitas

Indonesia Raya Bergema Di Yogyakarta di Tengah – tengah Turbulensi Politik Identitas

Oleh : Satrio Toto Sembodo

IDN-CHANNEL – Dunia yang berpenduduk hampir 7,5 Milyard orang saat ini dan telah memasuki fase baru sebagai era informasi digital bahkan telah memasuki era robotik sebagai evolusi tahap ke 4 dan ke 5 sejak era mesin uap ditemukan pada kenyataannya masih dihadapkan pada persoalan persoalan peradaban dasar yang diwarnai dengan gesekan antar kelompok masyarakat yang berbeda identitas atas dasar suku, agama, ras dan golongan.

Agama, Politik Maupun Pengetahuan telah berupaya sedemikian rupa untuk memberikan kontribusi pada pembangunan manusia yang memiliki kesadaran kehidupan bersama melalui berbagai macam dalil, dogma, paradigma maupun teori agar populasi dunia dapat hidup berdampingan dalam perasaan damai dan aman serta non diskriminasi.

Namun keseluruhan nya tidak sepenuh nya berhasil dan sebaliknya individualisme dan komunalisme semakin menguat dimana mana pada era semua manusia dapat berkomunikasi dengan menggunakan produk teknologi komunikasi dan informasi. Aku dan Dia, Kami dan Kalian, In Group dan Out Group telah menjadi bagian yang telanjang dipertontonkan dalam kehidupan sehari hari di dalam masyarakat informasi saat in dan hal tersebut semakin kentara pada masyarakat yang hidup pada sistem politik yang terbuka yang konstitusi negaranya mengatur tentang kesetaraan (Equality) dan equaty (Keadilan) dan kebebasan (Liberty).

Spirit pembebasan perbudakan dan dis-klasifikasi kelas sosial dan latar identitas sejak zaman dulu tidak pernah tuntas terselesaikan konflik suni dan siah, timur dan barat, tradisional dan modern, konservatisme dan progresivisme menjadi bagian yang berulang, tumbuh dan berkembang bahkan tidak berujung dan secara generatif terus melahirkan generasi generasi baru yang sejatinya tidak lahir pada era konflik pertama kali terjadi. Bahkan konsep kewarganegaraan yang menjadi simbol identitas kesatuan sebagai bangsa tidak mampu sepenuhnya mengurai sekat sekat identitas yang ada pada masyarakat plural.

Istilah “MIX BUT NOT COMBINE” (Lee) menjadi suatu realita sosial dalam masyarakat plural (funiral) sehingga sejatinya masyarakat hidup pada situasi yang kompleks yang dinamis antara sekat identitas diri dan kelompok dengan kondisi interaksi sosial yang terjadi sehari hari pada ruang kehidupan politik, ekonomi dan budaya.

Kondisi aktual dan menjadi potret itu semua adalah hasil pemilihan presiden Amerika Serikat dimana perolehan suara antara calon yang diusung oleh partai republik donald trump dan perolehan suara antara calon yang diusung oleh partai demokrat joe biden bersaing sangat ketat.

Sebagai pengusung demokrasi modern dan menjadi penggerak demokratisasi di dunia ternyata kultur politik identitas di amerika serikat masih cukup kuat di semua isu identitas masyarakat yang berdasarkan pada identitas kesukuan, identitas keagamaan, identitas Ras dan Golongan disamping hal hal yang berkaitan dengan kepentingan bersama seperti isu isu mendasar tentang lapangan pekerjaan, kesehatan , pendidikan dan keamanan.

Hal seperti ini pun menjadi bagian dari persoalan sensitif pada proses demokratisasi di dalam perjalanan politik reformasi indonesia yang masih menghadapi turbulensi yang disebabkan oleh sekat rezim politik yang bersifat paradigmatik antara orde lama, orde baru dan orde reformasi yang berpengaruh pada proses pembangunan nasional.

Dengan kondisi menguatnya politik identitas dimana mana pada era demokrasi, globalisasi dan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi yang massive dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak sepenuhnya protokol universal dan konstitusi setiap negara yang memuat spirit perdamaian dunia yang didasarkan pada semangat harmoni belum mampu sepenuhnya mengurai, mengurangi dan mencegah potensi konflik identitas antara manusia .

Kondisi tersebut menjadikan kedamaian dan
keamanan kehidupan bersama menjadi rapuh disebabkan dinamikanya bergerak secara asimetrik pada kompleksitas determinan yang lahir dari berbagai situasi internal, eksternal dan lingkungan kehidupan yang juga mengalami banyak perubahan fundamental begitu cepat dan terkadang tidak dapat diduga duga.

Dalam kondisi seperti itu, tantangan menjaga kohesi sosal pada masyarakat plural semakin penting dan strategis yang harus diupayakan secara terstruktur, teroganisir dan dioperasionalkan secara efektif, efisien dan berkelanjutan untuk melahirkan suatu budaya bangsa yang hidup dalam ruang bersama dan untuk masa depan bersama (One For All , All For One).

Program Indonesia Raya Bergema Yang Digagas Oleh Sri Sultan Hamengkubuwono Ke X Dengan Mewajibkan MendengarkanLagu Indonesia Raya Setidaknya Menjadi Percikan Api Untuk Membakar Kembali Spirit Nasionalisme Indonesia Yang Terancam Oleh Gelombang Nilai Nilai Asing Baru Baik Ideologi Maupun Budaya Yang Secara Tidak Sadar Telah Banyak Mengerosi Daya Tahan Nasionalisme Indonesia Yang Dasarnya Ada Pada Rasa Cinta Tanah Air, Cinta Budaya dan Tradisinya Sendiri, Cinta Pada Negeri Nya Sendiri, Cinta Untuk Memajukan Bangsa Dan Menjaga Sepenuhnya Cita Cita Proklamasi Indonesia 1945.

Program Indonesia Raya Bergema dapat dimaknai sebagai cara untuk menyadarkan kembali tentang jati diri bangsa baik secara personal maupun kolektif bahwasanya kejayaan bangsa hanya dapat terwujud ketika sebagai bangsa kita mampu mengaca secara objektif tentang dirinya di tengah tengah identitas bangsa lain, menyadari posisi kompetitif bernilai strategis dan kembali menyusun programatik dalam satu visi dan misi Indonesia masa depan yang tidak saja mampu bertahan sebagai suatu negara bangsa yang bersatu dan berdaulat dari turbulensi perubahan dunia tetapi menjadi negara dan bangsa yang memiliki peran utama dalam memelihara peradaban dunia yang damai, aman, sejahtera, berkeadilan dan saling menghormati.

Program Indonesia Raya Bergema Yang Digaungkan Di Yogyakarta Menunjukkan Bahwa Sekali Lagi Dalam Perjalanan Sejarahnya , Yogyakarta. Merupakan Tempat Dimana Api Nasionalisme Tetap Menyala, Semoga Sebagaimana Teori “Grass Burn“ Api Itu Akan Merambah Ke daerah daerah lain dan menjadi semangat utk memajukan bangsa dan negara, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, merawat kebhinekaan indonesia akan kembali berkobar, semoga di setiap lubuh hati yang paling dalam dari setiap insan manusia indonesia terpatri semangat “SEKALI INDONESIA SELAMANYA INDONESIA “Dan Dalam Kapasitas Ini Sultan Hamengkubuwo X Layak Menjadi Solidarity Maker Untuk Kedamaian Dan Kesatuan Nasional Yang Mulai Berjarak Karena Turbulensi Politik Identitas yang selama ini menjadi modal kontestasi politik era demokrasi populisme.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

RUU PDP Diharapkan Benar-benar Melindungi Masyarakat

Sumber Foto: Istimewa IDN-CHANNEL - Indonesia butuh lembaga kontrol yang punya otoritas bila Rancangan Undangan-Undang Perlindungan Diri Pribadi (RUU PDP) menjadi peraturan resmi. Hal tersebut dikatakan...

Mentan SYL Ingatkan Pentingnya Ketangguhan Sistem Pangan Kawasan ASEAN

Foto: Kementerian Pertanian IDN-CHANNEL - Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk pada pencapaian Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Tujuan 2 “Tanpa Kelaparan”, khususnya dalam memastikan...

Presiden Sampaikan Tiga Fokus KTT ASEAN Plus Three dalam Ketahanan Kesehatan

Foto: Sekretariat Presiden IDN-CHANNEL - Presiden Joko Widodo menyampaikan tiga hal yang dapat menjadi fokus ASEAN Plus Three (APT) dalam pembangunan ketahanan kesehatan. Tiga hal...

Mentan SYL Pimpin Sidang Menteri Pertanian ASEAN, Pastikan Ketahanan Pangan Regional

Foto: Kementerian Pertanian IDN-CHANNEL - Seiring dengan dinamika pembangunan regional dan imbas pandemi Covid-19 dalam 2 tahun terakhir, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengajak para...

Recent Comments